header image
 

Bike to Work (B2W) Surabaya

Saat ini bersepeda tidak bisa dibilang hanya menjadi pengisi waktu santai. Komunitas Bike to Work (B2W) Surabaya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk berangkat dan pulang kerja. Melalui sepeda mereka menebarkan misi pelestarian lingkungan di Surabaya.

Oleh: Ginanjar Dimas Agung alias Togin

Waktu menunjukkan jam delapan malam. Lima belas sepeda angin terparkir di sekeliling sekretariat B2W di Jalan Juwingan, Surabaya. Beberapa orang sedang men-setting sepeda di tepi jalan Juwingan. Beberapa sedang mengobrol di dalam sekretariat. “Biasanya tiap malam Sabtu kita berkumpul di sekretariat. Setelah berkumpul kita akan bersepeda berkeliling Surabaya untuk singgah di tempat makan tertentu. Ini salah satu agenda mingguan B2W Surabaya!” papar Achmad Basori.

B2W (baca: Bike to Work) adalah komunitas pekerja yang menggunakan sepeda sebagai transportasi utama untuk beraktivitas, termasuk bekerja. Misi utamanya mengampanyekan program langit biru.

B2W Surabaya yang dideklarasikan pada 27 Agustus 2006 pada awal pendiriannya di Surabaya hanya beranggotakan tiga orang. Tetapi saat ini, jumlahnya meningkat. Anggota aktif yang terdaftar berjumlah 40 orang. “Kami berani mengklaim bahwa anggota kami sekitar 1.000 orang termasuk anggota pasif,” papar Achmad sebagai koordinator B2W chapter (bagian) Surabaya.

Anggota pasif diklaim B2W Surabaya dengan alasan pengguna sepeda sebenarnya, baik untuk pergi ke kantor atau untuk sekedar hobi, sudah menjalankan misi B2W. “Anggota pasif akan terlihat ketika kita mengadakan acara,” papar koordinator yang telah menjabat selama dua tahun ini.

Mayoritas penggiat B2W adalah kalangan pekerja. Meskipun mengusung tema komunitas pekerja bersepda, B2W tak menutup kemungkinan anggota umum yang ingin bergabung. ”Kami ingin mengembangkan sayap dengan merangkul komunitas sepeda, mahasiswa dan anak sekolah. Salah satunya adalah program Bike to Campus dan Bike to School,” terang Achmad dengan optimistis.

Bukin, yang baru bergabung B2W 4 bulan yang lalu, membeberkan, ia tidak merasa lelah mengayuh sepeda walaupun harus menempuh perjalanan 10 km. Untuk bekerja, ia harus bertolak dari rumahnya di Tambak Sumur menuju daerah Jagir Wonokromo.

Bukin ke B2W karena sejak kecil senang mengendarai sepeda. Kesukaannya dalam aktivitas petualangan saat muda menjadi salah satu latar belakangnya “Dulu saya senang berpetualang tetapi sekarang tidak sempat. Dengan bersepeda hobi berpetualang dapat disalurkan,” ungkapnya.

Berbeda dengan Bukin, Afif, mahasiswa ITS mengungkapkan pengalaman nikmatnya bersepeda saat wisata. Hal itu menginspirasinya untuk membeli sepeda dan bergabung dengan B2W Surabaya ”Bergabung dengan B2W menambah teman yang senang bersepeda,” imbuhnya melengkapi pemaparan Bukin.

B2W membebaskan siapa saja dengan sepeda apa saja untuk bergabung. Tidak ada pungutan atau iuran wajib. Jika ada anggota atau masyarakat umum yang ingin menyumbang dapat dilakukan dengan cara membeli merchandise, berupa kaus, pin, pelat B2W, dan sticker. Keuntungan yang terkumpul dari penjualan digunakan untuk kampanye dan sosialisasi penggunaan sepeda sebagai transporatasi utama.

Tak bisa dipungkiri, anggota yang tergabung dalam B2W telah berjalan dua tahun ini kerap menemukan kendala dalam aktivitasnya. “Saat ini kami masih termarjinalkan, masyarakat masih menganggap sepeda adalah golongan kelas bawah,” papar Achmad Basori.

Harga sepeda anggota komunitas B2W, kata Achmad, bervariasi, mulai Rp 300.000 sampai yang termahal seharga sepeda motor. “Paling mahal sekitar Rp 15 juta,” terang Bukin yang bekerja di daerah Jagir Wonokromo.

Salah satu bentuk marjinalisasi sepeda dan penggunanya adalah tidak disediakannya lahan parkir khusus sepeda di gedung-gedung perkantoran serta tidak ada jalur khusus sepeda di jalan raya Surabaya.

Agar masyarakat tertarik dengan alat transportasi sepeda, B2W terus melakukan kampanye. Kampanye dilakukan dengan menyebarkan informasi melalui flyer, mengadakan kegiatan festival sepeda dan konvoi keliling kota.

Achmad memaparkan, misi B2W adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa bersepeda akan menyelamatkan lingkungan dan anak cucu kita. Sebab, dengan bersepeda akan mengurangi polusi udara dan menyelamatkan lingkungan. Permasalahan lingkungan, khususnya penghematan bahan bakar minyak memang menjadi salah satu alasan terbentuknya komintas B2W di Indonesia.

Komitmen anggota komintas terhadap misi B2W tidak menyurutkan riders untuk mengayuh sepeda dari rumah ke tempat kerja atau kampus. Jarak jauh bukan halangan untuk bersepeda. Semua dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Kehidupan untuk saat ini juga kehidupan untuk masa depan.(*)

Belajar Nuklir? Datang ke SMAN 7

Teknologi nuklir kini sudah masuk ke dalam ranah pendidikan menengah. Salah satunya ada di pojok laboratorium SMAN 7 di Jl Ngaglik. Di sana terdapat sejumlah perangkat yang dekat dengan dunia nuklir. Misalnya detektor radiasi, pencacah radiasi, personal dosimeter, survei meter hingga pengolah data Iptek. Selain itu pusat Iptek nuklir tersebut juga dilengkapi dengan perpustakaan mini yang menyediakan buku, CD dan segala literatur yang berhubungan dengan nuklir.

Oleh: Ginanjar Dimas Agung

Seperangkat alat ini adalah sumbangan yang diberikan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). SMAN 7 memang ditunjuk oleh Batan sebagai Pusat Informasi Iptek Nuklir di Jatim.

“Ini adalah langkah yang dilakukan Batan untuk mencetak sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan nuklir,” ujar Kepala Bidang Diseminasi Iptek Nulir Batan, Eko Madi Parmanto beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya proyeksi ke depan dengan pemberian sumbangan iniadalah untuk menanamkan pengetahuan nuklir sejak dini, dan menyiapkan sumberdaya manusia yang paham dengan teknologi nuklir.

Diakui Eko dalam langkah sosialiasi teknologi nuklir, kerapkali mendapatkan cemooh berbagai pihak. “WC di terminal saja tidak terurus, la kok Indonesia ngurusi nuklir. Istilahnya, bangsa makan tempe saja kok maunya aneh-aneh,” ujar Eko menirukan ucapan mereka yang mencemooh upaya Batan ini.

Meski kerap mendapat cemooh, Batan terus berusaha membawa pengetahuan nuklir ke tengah-tengah pelajar. Sehingga mereka tak salah kaprah terhadap nuklir. Selama ini nuklir kerap diidentikkan dengan bencana dan bahaya seperti bom ataupun kebocoran instalasi pembangkit dan juga radiasinya.

Padahal jika diteliti dan dipergunakan dengan benar, nuklir justru jauh lebih bemanfaat bagi kehidupan manusia. “Sudah banyak hasil penelitian nuklir yang dipergunakan dalam bidang yang menyangkut kehidupan manusia seperti pertanian, peternakan, kesehatan dan lain-lain. Dan ini yang perlu diajarkan ke siswa sejak dini,”katanya.

Menurut Eko, Pusat Informasi Iptek Nuklir di SMA 7 ini merupakan yang pertama kali ada di Jawa Timur. Namun untuk di Indonesia, merupakan yang ke 5 setelah pusat Iptek nuklir serupa di Jepara (2), Kudus (1) dan Boyolali (1).

Meski berada di lingkungan SMAN 7, namun pusat Iptek nuklir tersebut bisa digunakan oleh siapa saja yang tertarik mempelajari masalah nuklir. Bahkan para mahasiswa yang tertarik meneliti nuklir juga bisa memanfaatkannya.

Agar sosialisasi nuklir berjalan lancar dan peralatan sumbangan bisa dimanfaatkan dengan optimal, Batan mendidik 30 guru fisika, kimia dan biologi di Surabaya untuk menjadi instruktur dan menularkan ilmu ke para siswanya. Untuk menjaga keamanan dan fungsi alat peraga, Batan akan mengecek secara berkala setiap setahun sekali.

Hartati guru biologi SMA 14 Surabaya yang telah dididik menjadi instruktur mengatakan, Iptek nuklir ini dapat menambah wawasan siswa bagaimana nuklir bermanfaat dan bisa dimanfaatkan “Dengan praktik di laboratorium, kita dapat melihat aplikasi dan mengetahui radiasi yang ada disekitar kita,” katanya.

Di luar laboratorium, Eki Meirina, Bandra Andre dan Glorina Lianita siswi kelas XI IPA berharap keberadaan alat-alat tersebut dapat membantu siswa memahami teori tentang nuklir yang telah diberikan olehguru. (*)

dimuat di surabaya post pada Jumat, 26 Desember 2008 |

tapak kerinduan yang memuncak


Rindu Sabana


3 Duta Anti-Eksploitasi Anak, Karena Muda, Sering Disepelekan

Oleh: Ginanjar Dimas Agung

Orang bilang usia remaja untuk bersenang-senang. Tetapi hal itu tak berlaku bagi Vivi, Rian dan Aris. Tiga remaja belia Surabaya ini memanfaatkan waktu mudanya untuk berkampanye untuk menghentikan eksploitasi dan kekerasan pada anak dan remaja.

Namanya Ika Lusi Trifisusanti, akrab disapa Vivi. Usianya 17 tahun. Ia tidak sendiri, bersama Abdullah Tawakkal Alalloh, 18 tahun, dan Aris Aditya, 18 tahun, terpilih menjadi Duta Anak Surabaya untuk mewakili Indonesia mengikuti World Congress III Againts Commersial Sexual Exploitation Children (CSEC) di Rio de Janeiro, Brazil, 25 November 2008. Pada acara itu, mereka akan bertemu 299 muda-mudi manca negara.

Vivi, Rian, dan Aris terbang ke Brazil untuk menyuarakan kondisi anak-anak Indonesia yang rawan sasaran eksploitasi dan kekerasan. Ia mengakui bahwa kepergiannya merupakan tanggung jawab yang besar karena membawa nama Surabaya dan Indonesia dalam kancah Internasional. “Surabaya memang salah satu tempat yang rentan terhadap praktik trafficking, kekerasan, dan komersialisasi seksual pada anak,” ungkap Vivi membuka obrolan, Rabu (12/11).

Menurut data LSM Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Surabaya, periode Januari-November 2008 terdapat 67 anak/remaja Surabaya dilacurkan. Data itu diambil di daerah dampingan KPI, seperti Stasiun KA Wonokromo, Tandes, Kandangan, Moroseneng, dan Lasem. Sedangkan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), termasuk kekerasan pada anak yang didampingi KPI, 115 kasus. Terakhir jumlah kasus perdagangan manusia (trafficking) yang diadukan dan ditangani 42 kasus.

Kembali ke Vivi, sudah lima tahun dia menekuni isu-isu pembelaan hak-hak anak. Mulai dari traffickinig, kekerasan anak dan HIV AIDS. Awal perkenalan siswi SMA 17 Agutus ini pada dunia pembelaan hak anak sebenarnya adalah ketidaksengajaannya saat mengikuti lomba majalah dinding (mading) yang diadakan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).

Setelah itu ia belajar dan ikut pelatihan dan diskusi tentang kekerasan dalam rumah tangga dan penyakit menular seksual. “Memang awalnya iseng, semakin lama semakin makin peduli terhadap kondisi masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak,” kata belia yang sekarang duduk dibangku kelas III SMA 17 Agustus 1945 Surabaya.

Selama melakukan sosialisasi trafficking, dan HIV AIDS kepada sesama teman sebaya atau tetangganya, Vivi kerap disepelekan. “Kamu masih kecil belum tau apa-apa!” kata Vivi menirukan suara orang yang kerap menganggapnya remeh. Patah semangat selalu menghantui Vivi, tetapi ia berusaha menepisnya dengan memberikan perhatiannya pada anak-anak korban kekerasan dan eksploitasi seksual.

Selesai mengikuti pembekalan duta yang akan dikirim ke Brazil oleh Badan Peberdayaan Masyarakat dan Plan Internasional, Vivi menceritakan pengalamannya. Ia pernah mendampingi murid TK yang dituduh mencuri handphone (HP). “Saya menemaninya ke kantor polisi, sampai ia bisa dibebaskan lagi,” ungkapnya sambil menerawang berusaha mengingat kejadian itu.

Vivi tidak sendiri, kepergiannya ke Brazil ditemani Aris dan Rian. Aris adalah mahasiswa Diploma Prisma Profesional jurusan akunting. Sedangkan Rian hanya lulus SMA. Seperti halnya Vivi, mereka aktif dalam menyuarakan hak anak dan pencegahan terhadap eksploitasi seksual dan kekerasan pada anak.

Berbagai kegiatan sosialisasi pun telah mereka lakukan meski dengan cara yang berbeda. Aris, misalnya, berusaha mensosialisasikan isu trafficking kepada masyarakat di daerahnya, Tambak Asri. “Anak-anak dan remaja adalah usia yang rentan,” kata Aris. Melalui pengajian dan acara malam 17 Agustus, ia berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat yang tinggal di Tambak Asri.

Apa yang dilakukan Vivi dan Aris juga dilakukan Rian. Ia berusaha mengaktifkan Karang Taruna di daerah tempat tinggalnya, kawasan Kandangan. Ia merasa bahwa anggota Karang Taruna hanya berkumpul saat menjelang tujuh belasan saja. Usahanya kadang tidak terlalu membuahkan hasil. “Gak direken,” katanya.

Tetapi ia tetap berusaha sebaik mungkin. Akhirnya ia hanya bisa melakukan pendekatan dari teman ke teman. Pengetahuannya tentang trafficking dan kekerasan seksual ternyata cukup mempengaruhi sikapnya pada perempuan. “Kepada perempuan saya jadi lebih melindungi,” tandas Rian.

Vivi, Aris, dan Rian berharap bahwa kepergiannya ke Brazil dapat membantu menyuarakan hak anak, baik yang ada di Indonesia dan Dunia. “Anak-anak juga bisa memberikan pendapat,” kata Vivi menutup pembicaraan.

Terpilihnya Vivi, Aris, dan Rian sebagai duta anak Surabaya ke Brazil bukan asal comot. Mereka terpilih karena kemampuan mereka sendiri. Berawal dari organisasi non-pemerintah (ornop) Plan Internasional menunjuk muda-mudi Surabaya untuk menentukan perwakilan anak yang akan pergi ke Brazil.

Plan Internasional mengajak LSM yang bergerak di wilayah Surabaya untuk mengutus wakilnya mengikuti seleksi. Terkumpulah 21 kandidat muda dari tujuh LSM yang bergerak dalam advokasi hak anak.

Cicik Sri Rejeki, perwakilan dari Plan Internasional, mengungkapkan bahwa proses penseleksian ini memang unik. Sebab, yang menentukan tiga orang yang berangkat ke Brazil adalah anak-anak sendiri.

“Anak-anak sudah bisa menentukan pendapat, kami (panitia) hanya memantau saja. Yang penting anak-anak tahu seluk beluk trafficking, kekerasan dan seksual pada anak” katanya. Menurut Cicik, Surabaya, Jakarta dan Makasar memang masuk dalam tiga besar kasus pelanggaran hak anak. *
Dimuat di Surabaya Post Rabu, 12 Nopember 2008

Hoki Tato Koi

Oleh: GINANJAR DIMAS AGUNG

Tato yang pada zaman dulu digunakan untuk menandai penghuni penjara, kini berkembang untuk gaya dan kecantikan. Sebagian orang juga yakin tato gambar tertentu mempengaruhi keberuntungannya. Seperti tato ikan koi yang dianggap lambang hoki.

Tato umumnya bergambar naga, tengkorak, bunga, simbol khsusus, dan inisial nama. Jenis gambar tato pun mempunyai beberapa aliran, mulai dari aliran tribal berupa motif dan grafis dari Eropa kuno, oriental mewakili gambar-gambar Asia dan old school, atau istilahnya adalah jadul identik dengan gambar abadi seperti tengkorak atau logo S mewakili Supermen. Tetapi bagaimana dengan tato bergambar ikan koi? Pertanyaan yang mungkin terlintas adalah: Ikan kok dijadikan tato? Terkesan tidak gagah bukan?

Tetapi apa jawaban dari si pemilik tato? Misalnya Iman Santoso. Ia memilih gambar tato karena sesuai dengan karakter shionya yaitu air. Selain itu, yang utama adalah ia percaya bahwa tato koi bagi orang Tionghoa adalah pengharapan keberuntungan dan kemakmuran.

Ketika ditanya seberapa besar gambar tato koi yang ada di kulitnya, dengan perlahan ia menggulung celana panjang bagian kanannya. Tersibak jelas guratan gambar liuk ikan koi. Tato bergambar koi berwarna oranye kemerahan itu baru berumur tujuh bulan melekat di kulit betisnya. “Ini belum selesai sempurna, masih ada yang harus ditambahkan” katanya sambil menunjuk bagian yang belum dilabur warna.

Iman mengungkapkan, meskipun tak terlalu berharap, hoki tato koi tetap dia percayai sebagai simbol keberuntungan. Untuk melekatkan gambar koi di betisnya, pria yang berusia 35 tahun ini rela mengocek uang Rp 1,5 juta rupiah. “Sepertinya sih segitu, sudah lupa, Mas” ujarnya berusaha melupakan jumlah nominal yang telah dikeluarkannya.

Begitu pula dengan Didimus. Saat ditemui, ia sedang menatokan lengan kirinya. Ia memang menyukai tato, termasuk koi. Ia tidak sempat memperlihatkan tatonya, karena saat itu tangan kirinya sedang ditato. “Tato Koi ada di punggung kanan saya,” jawabnya singkat. “Ikan koi membuat saya hoki dalam pekerjaannya” kata seorang seniman tato berusia 25 tahun ini.

Sedikit darah keluar dari pori-porinya yang baru saja ditembus jarum mesin tato. Menurut dia, tato ikan koi sudah lama ia inginkan. Setamat SMP, ia mulai mencari tukang tato untuk menggambar koi di bahunya. Tangan kanannya masih ditato, terlihat sedikit air mata di ekor matanya karena perih. Sementara tukang tato tetap asyik mewarnai lengannya.

Memang, untuk urusan kepercayaan tidak bisa dipaksakan, apalagi jika disangkutpautkan dengan hoki atau keberuntungan jika melekatkan gambar koi di tubuh. Begitulah yang diungkapkan Djohan, salah satu staf pengelola studio tato Radjah Skin Design.

Ia menuturkan, pelanggan yang memesan tato koi biasanya 10 orang per bulannya di satu studio. Sedangkan di Surabaya, studio Radjah berjumlah dua. Jumlah 10 orang bisa dibilang banyak, karena kadang-kadang untuk menggambar satu tato koi saja membutuhkan waktu lebih dari 4 jam. “Tingkat kerumitan dan besar gambar koi juga ikut mempengaruhi” ucap Djohan Samuel Nangin.

Ia sendiri mempunyai tato Koi padu padan warna merah kuning di paha bagian depan. Selain untuk mengejar keberuntungan, Djohan memilih tato koi karena hewan tersebut adalah hewan keramat dalam kepercayaan China dan Jepang yang benar-benar nyata jika dibandingkan dengan Naga, Phoenix, dan burung Hong.

Tato Koi memang unik, Djohan menceritakan pengalamannya selama menjadi staf studio Tato. “Pelanggan yang ingin menato koi harus konsultasi ke Suhu yang dapat menghitung Hong Sui,” tuturnya.

Mahal atau tidaknya membuat tato koi di Studio Radjah bukan berdasarkan pada besar atau tidaknya gambar. “Tarif menggambar tato itu Rp. 420.000 per jam” ucap Djohan membocorkan rahasia gerainya.

Ia mengungkapkan, membuat tato koi membutuhkan detil yang jelas. Untuk menggambar koi harus memperhatikan gurat sisik, warna-warna yang digunakan, sampai bentuknya yang menyerupai aslinya. Umumnya warna yang paling disukai pelanggan Djohan adalah merah, kuning, oranye, dan hitam. “Soal warna tidak menjadi masalah,” katanya

Dalam ilmu penafsiran tanda atau semiotika, tanda dalam bentuk bahasa atau simbol mempunyai pengaruh dalam kehidupan sosial. Tak terkecuali tanda yang tersaji dalam bentuk tato. Hal itu seperti diungkapkan Wawan Setiawan, dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Tanda koi bukan hanya sekadar ikan, tetapi merupakan simbol keberuntungan yang masuk dalam kesadaran para konsumen (pengguna tato koi) melalui mitos,” papar dosen yang sedang melakukan penelitian tentang Zen Jepang ini.

Menurut Wawan, kepercayaan bukan satu-satunya yang mempengaruhi kesadaran masyarakat pecinta tato Koi. Tetapi ada tiga faktor lain yang mempengaruhi kepercayaan ini. Faktor-faktor tersebut adalah pengetahuan tentang koi, mitos yang mengiringi koi, dan peristiwa keseharian yang dialami masyarakat yang mempercayainya.

Alkisah legenda China, koi mencoba melawan arus sungai menuju hulu sungai Huang Ho untuk menjadi sang Naga. Karena koi berhasil menjadi naga, tak heran ikan koi memang selalu dikaitkan dengan keberuntungan, kerja keras, kesuksesan, dan kesejahteraan.

Kepercayaan bahwa koi membawa keberuntungan diturunkan melalui tradisi yang membuat masyarakat mempercayai dan menafsirkan pesan moral kisah koi. Iman Santoso, Didimus, dan Djohan Samuel Nangin adalah sebagian orang itu. Melekatnya koi dalam diri mereka seakan-akan selalu mengingatkan perjuangan ikan koi yang berusaha menjadi Naga. Begitu pun dengan orang-orang selain mereka yang merajah koi pada kulitnya. Mereka berusaha dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan. *

Si Meong, antara Hobi dan Bisnis

Oleh: GINANJAR DIMAS AGUNG

Hobi memelihara kucing butuh dedikasi dan pengorbanan. Ini karena cinta kepada si meong harus diwujudkan dengan mencurahkan animal walfare yang tak murah. Tak heran, para penghobi kucing juga membiakkannya untuk bisnis.

Muhammad Darmawan tak menyangka dapat meraih piala bergilir Best Indonesian Cat yang diselenggarakan oleh Indoensian Cat Assosiation (ICA), Minggu (14/12), di City of Tomorrow Surabaya. Tak ada hadiah uang tunai, yang penting adalah gengsi. Kucing jenis Persia miliknya yang bernama Mita Cats Gibastar menyisihkan 124 kucing lainnya.

Kucing itu dibeli Darmawan enam bulan yang lalu dari salah satu cattery, pembiakan kucing, di Bandung. Saat ditanya berapa harga Gibastar, Iwan pangilan akrab Darmawan, bungkam. “Rahasia, ini kesepakatan antara yang jual dan yang membeli,” ujar penghobi kucing yang tinggal di Dukuh Kupang XVIII Surabaya itu.

Usut punya usut, sikap Darmawan merahasiakan harga kucingnya itu berkaitan dengan rencananya mendirikan cattery. Bagi lelaki kelahiran Surabaya 21 April 1967 ini, kemenangan Gibastar mempunyai arti tersendiri. “Untuk mendirikan cattery, harus mempunyai bibit yang berkualitas,” ungkapnya. Cattery-nya itu saat ini masih dalam proses pendaftaran di ICA. “Tinggal tunggu waktu saja,” tegasnya berbinar.

Selain Gibastar, Darmawan sudah memiliki dua betina dan satu pejantan. “Kucing-kucing itu akan dijadikan indukan,” katanya menerangkan modal awalnnya mendirikan cattery.

Ia tak memiliki rahasia untuk memenangkan Gibastar dalam ajang International Cat Show ke-15 tersebut. “Yang penting animal walfare-nya diberikan,” katanya dengan senyum mengembang.

Animal walfare (kesejahteraan binatang, red), lanjut dia, adalah kasih sayang dan perhatian yang diberikan pemilik kepada kucingnya seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan yang teratur. Untuk kesehatan, ia memberikan suntikan vaksin saat Gibastrar berumur 3 bulan, 6 bulan lalu selanjutnya setahun sekali. Sedangkan makanan yang diberikan tidak terlalu banyak, “Yang penting sering,” tambahnya.

Iwan mengakui, juara yang diraihnya itu berawal dari hobi.

Senada dengan Iwan, Tuti Lestari juga jauh-jauh dari Bandung demi mengikuti ajang bergengsi bagi para pecinta si meong tersebut. Namun, Tuti yang harus membawa kucingnya dari Bandung dengan naik mobil itu tidak mendapatkan juara.

Dedikasi Tuti di dunia perkucingan tidak main-main. Dia rela menebus kucing bernama Blue Storm Tifany Cats Cattery yang diimpornya dari Rusia pada 2006 dengan harga Rp 35 juta. Kucing itulah yang dia ikutkan dalam kontes Minggu lalu.

Selain itu, Tuti masih punya dua kucing andalan lagi, yakni Tifany Cats Kelani dari Jerman dan Catica Spring Rainbow of Tiffany Cats dari Lituania yang diimpor pada 2004. “Belinya 2400 Euro pada 2004,“ terang Tuti yang mengingat-ingat kurs 2004 bahwa 1 Euro setara dengan Rp 15 ribu. Kucing miliknya termasuk jenis Persian kucing yang berbulu lebat dan eksotik.

Di sebelah Tuti Lestari, ada Ririen Suryo asal Yogyakarta yang sama-sama penyayang dan pembiak kucing Persia. Ririen juga peserta kontes di Cito, Minggu lalu, namun juga gagal meraih juara meski dia jauh-jauh datang ke Surabaya.

Di rumahnya, Ririen mengaku memiliki 40 kucing Persia. Sama dengan Tuti, Ririen memang membiakkan kucing untuk bisnis. Untuk menjaga kesehatan kucing-kucingnya, ia mempekerjakan tiga karyawan. Agar tetap sehat, ia memberikan makanan khusus, yang telah dipercaya pembiak dan pecinta kucing di seluruh dunia.

Untuk mengenyangkan 40 kucingnya, ia harus menyediakan 5-6 karung per bulannya, ukuran per karung 10 kg seharga Rp 800.000. “Namanya adalah Royal Canin, ini yang direkomendasikan untuk kucing Persia di seluruh dunia,” tuturnya. Baginya hobi tidak bisa diukur dengan uang. “Yang terpenting adalah rasa kasih sayang saya untuk perawatan kucing,” tambah dia.

Selain memberi makan, kesehatan kucing juga perlu diperhatikan. Setiap hari disisir dan dibersihkan juga deberikan vaksin. Agar daya tahan tubuh kucingnya tetap terjaga. Vaksin diberikan pad umur 3 bulan, 6 bulan dan tiap 1 tahun. Ia mempunyai 3 pegawai untuk mengurusi ke 40 kucingnya.

Ririen adalah pegawai bank Mandiri di Yogyakarta, juga seorang pembiak kucing, cattery. Untuk mengasilkan anak yang berkualitas, Ririen mendatangkan induk jantan dan betina dari Jerman, Rusia, dan Amerika. Ia menaksir, harga anakan sehat dan berkualitas saat ini bisa ditaksir Rp 8 juta.

Saat ditanya tentang anggapan umum kali memelihara kucing akan terkena virus tokso yang dapat menyebabkan kematian dan cacat janin, Ia menampik. Katanya, memang kotoran kucing menjadi penyebab ke tiga timbulnya virus tokso, setelah konsumsi daging mentah dan kotoran burung. Tetapi, virus ini dapat dihindari.

“Memelihara kucing juga peduli pada kesehatan kita,” katanya. Virus tokso dapat timbul ketika kotoran kucing yang tidak dibersihkan selama tiga hari. “Kalau kita (pecinta kucing), membersihkan kotoran kucing secara teratur. Kotoran kucing kurang dari 24 jam sudah dibersihkan,” ujarnya.

“Sekali lagi, cattery ini tidak hanya sekedar bisnis,” kata Ririen. Cattery adalah salah satu bentuk kasih sayang kita terhadap kucing. Meskipun harus melakukan ekstra perawatan dan harus mengeluarkan ekstra biaya, pemilik cattery dapat menutupi biaya operasionalnya dengan menjual anak kucing yang berkualitas. *

Sekolah Nunut Menghitung Hari

Sejatinya sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi saat ini sekolah swasta harus terganjal karena tak punya gedung sendiri. Akhirnya sekolah nunut itu harus menyerah karena peraturan. Padahal, di sanalah masyarakat kelas bawah bisa menuntut ilmu

Oleh: Ginanjar Dimas Agung

PUKUL 14.00. Hujan baru saja reda setelah beberapa jam mengguyur sepanjang jalan Kusuma Bangsa. “Jangan ungkit-ungkit masa lalu dan jangan korek-korek luka. Saya sudah sakit hati,” Ucapan itu dilontarkan dengan nada tinggi oleh Soebroto Kepala Sekolah PGRI 28 saat ditanya tentang keberlanjutan SMA PGRI 28 di SMA 5 Surabaya setelah keluarnya Surat Edaran tentang kelayakan sekolah.

Surat yang dikeluarkan oleh Pemkot Surabaya dengan nomor 421/3698/436.5.6/2008 itu ditujukan kepada seluruh kepala SMP, SMA, SMK swasta se-Surabaya. Dalam edaran itu disebutkan, sekolah akan ditutup jika dianggap tak memenuhi syarat penyelenggaraan sekolah yang salah satunya kepemilikan gedung.

Alisnya naik, suaranya masih lantang, Pak Broto, sapaan akrab Soebroto semakin tegas menunjukkan ketidaksepahamannya dengan kebijakan tersebut.

Sampai saat ini SMA PGRI 28 belum mempunyai gedung sendiri. Terkait kebijakan Pemkot tersebut, mulai tahun ajaran baru 2008-2009 SMA PGRI 28 sudah tidak menerima pendaftaran mahasiswa baru. Praktis, sekolah ini hanya menyisakan kelas II dan III, masing-masing terdiri atas 3 kelas.

Kembali ke ruang sekolah SMA 5 Surabaya. Bel sekolah sudah dibunyikan. Tepat pukul 14.00 pelajaran akan dimulai bagi murid PGRI 28 di ruang kelas paling barat lantai I dan II, SMA 5. Terlihat siswi berlari menuju ruang kelas sambil berusaha mengenakan dasi abu-abu. Setelah dasi berhasil dipasang dengan sempurna, Ia masuk salah satu kelas dari 6 kelas yang masih tersisa dari SMA PGRI 28.

Nasib yang dialami oleh PGRI 28 juga dirasakan oleh SMA PGRI 10 yang nunut di SMA 7 di jalan Ngaglik. Lulusa Sutiknyo, staf tata usaha, menceritakan, SMA PGRI 10 hanya akan meneruskan kegiatan belajar-mengajar sampai siswanya habis. “Setelah itu masih belum dipikirkan lagi,” timpalnya.

Saat ini, PGRI 10 masih menyisakan enam kelas, itu pun sudah termasuk murid pindahan dari PGRI 1 yang telah tutup terlebih dahulu. Lulusa memprediksi, jika dihitung-hitung tahun depan kelas III akan habis maka hanya akan tersisa 2 kelas dan harus dipikirkan lagi apakah 2 kelas dapat mengganti biaya operasional yang dikeluarkan PGRI 10.

Menurut dia, itu belum dihitung dari banyaknya siswa yang membayar SPP dengan pas-pasan,“ katanya. Jika prediksi Sutiknyo ini benar, maka umur PGRI 10 tidak sampai genap 2 tahun.

Senja hampir hilang dari pandangan mata dan hujan masih saja turun. Sutiknyo masih setia menunggu murid PGRI 1 yang sedang belajar di dalam kelas. Ia menyayangkan ditutupnya sekolah PGRI 10. Selama ini PGRI adalah sekolah yang peduli dengan pendidikan masyarakat kelas ekonomi bawah. “Dengan uang seadanya murid bisa sekolah di sini” katanya.

Sekali lagi sangat disayangkan, sekolah ini menjadi tidak ada karena terganjal suirat edaran yang dikeluarkan oleh pemkot tentang penyelenggaraan sekolah, salah satunya adalah tidak boleh menumpang di gedung orang lain. istilahnya adalah sekolah nunut.

Malam hampir berganti, setelah pulang sekolah pukul 17.00, empat murid PGRI 10 belum meninggalkan area sekolah. Achmad Yunus, Irwan Prasetya, Intan Triwandani dan Vita Oktriananda menunggu gerimis.

Saat ditanya tentang sekolahnya yang akan ditutup, Yunus merasa kecewa bercampur bingung. “Nanti, setelah lulus mencap ijazahnya gimana?” tanyanya kepada teman yang lain. “Iya ini juga untuk masa depan” timpal Intan.

Bagi mereka PGRI sangat membatu untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi lagi. Lulusa mengatakan bahwa hampir 50 % murid yang sekolahnya berasal dari masyarakat yang kurang mampu. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang mengajukan beasiswa dan keringanan biaya.

Vita membayar uang sekolah perbulannya Rp 105 ribu, itupun masih terasa berat karena bapaknya bekerja serabutan. Kebaratan terhadap mahalnya biaya sekolah juga dialami oleh Yunus. Setiap malam harus membantu keluarganya untuk berjalan di kafe tenda. kegiatan ini berlangsung sepanjang malam hingga menjelang pagi. “Selepas magrib sampai jam 12 saya membantu keluarga berjualan, sedangkan setelah jam 12 malam sampai pagi saya harus mencari buah di pasar turi untuk dijual lagi. Itu sampai pagi” ungkapnya.

Irwan pun juga merasakan apa yang dirasakan oleh Vita. Irwan mengakui penghasilan yang didapatkan oleh orang tuannya sangat pas-pasan. “Bapak saya tukang becak” ungkap Irwan dengan sedikit malu. Agar bisa terus sekolah, Irwan pun menyiasati SPP yang dinilai mahal. Irwan mengatakan, setiap tahunnya mengajukan beasiswa keringanan biaya. Jika beasiswa dan keringanan biaya berhasil disetujui oleh kepala sekolah maka SPP akan dipotong setengahnya. “Jadi kita hanya membayar Rp 60 ribu” katanya.

SMA PGRI 10 dan 28 adalah sekolah yang terancam buyar, karena tidak mempunyai sarana dan prasarana sendiri, salah satunya adalah gedung sekolah. Joko Surono anggota PGRI dan Ketua Forum-Guru Tidak Tetap (GTT) yang sejak awal mengikuti perkembangan Surat Edaran (SE) sekolah nunut mengatakan, “Setidaknya sekitar 70% dari 75 sekolah PGRI, terpakasa buyar karena terganjal SE ini,” Joko.

Sementara di lain pihak, diedarkannya SE kepada seluruh sekolah di Surabaya menurut Kepala Dinas Pendidikan Surabaya (Kadispendik) Sahudi mengatakan, SE bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.”Sema sekolah sudah melaksanakan SE tersebut,” tandasnya.

Malam telah tiba dan gerimis masih menggayuti langit Surabaya. Murid-murid SMA PGRI 10 memutuskan untuk pulang dengan sepeda angin. Hujan telah menunda mereka untuk pulang setiap pukul 17.25. Mereka mulai mengayuh sepeda anginya menuju rumah masing-masing. *

Candu Arung Jeram untuk Workaholic

Bayangan yang mungkin terlintas di dalam benak kita saat mendengar arung jeram adalah tergulung riak sungai yang deras atau terantuk batu kali saat beraksi. Jangan salah, arung jeram jauh dari kesan bahaya.
Oleh: Ginanjar Dimas Agung
Arung jeram kini tak lagi menjadi favorit rekreasi anak-anak muda saja. Kian banyak warga mapan usia menyukai kegiatan keras ini. Alasannya sepele, kegiatan ini bisa menjadi obat stres setelah lelah beraktivitas di kantor. Terlebih bagi mereka para pecandu kerja (workaholic). Selain itu tak menguras kocek, alias murah meriah.

Tak heran pelayanan yang menyediakan jasa arung jeram laris manis diantre. Salah satunya Noars the Center of Recreation yang bermarkas di Jalan Adityawarman 70 lantai 2, Surabaya.

Adi Rusliono, Direktur Noars mengakui tingginya minat masyarakat terhadap arung jeram membuat Noars sedikit kewalahan. Meskipun selama ini tidak berpromosi dengan gencar, permintaan untuk wisata arung jeram selalu penuh setiap akhir pekan hingga akhir Natal dan Tahun Baru nanti. Mayoritas pesanan datang dari perusahaan-perusahaan, selebihnya peserta individu dan keluarga. “Sudah banyak yang antre jadwal,” katanya.

Padahal saat ini Noars hanya memiliki 13 perahu. Dengan armada ini pihaknya untuk sementara hanya bisa melayani 1200 orang setiap bulannya. “Tetapi target tahun depan kami akan menambah 20 perahu untuk memenuhi tingginya peminat arung jeram” katanya.

Mengapa tertarik dengan arung jeram? Hartono, karyawan Ground Handling di Bandara Juanda bisa mewakili kalangan mapan usia soal ini. Dikatakannya selama empat tahun, arung jeram acap dilakukan bersama 40 rekan kerjanya di Ground Handling di Bandara Juanda. Rekreasi itu biasanya dilakukan saat hari libur. Alasannya untuk menghilangkan kejenuhan bekerja. “Setelah ikut kegiatan itu, badan dan pikiran jadi fresh dan siap bekerja lagi,” kelakarnya. Ia mengibaratkan mengikuti arung jeram adalah sebagai pemuas kerinduannya saat kecil, yakni bermain air di sungai. Biasanya kantornya mengagendakan petualangan arung jeram di bentang Sungai Pekalen bagian atas, Desa Ranu Gedang sampai Desa Pesawahan, Probolinggo.

Enak, senang dan menegangkan adalah ungkapan yang hanya bisa keluar dari Solikin pejabat sekertaris kecamatan Candi Sidoarjo saat menikmati arung jeram. Meskipun sudah tidak bisa dibilang muda lagi, Solikin merasakan adrenalin yang meningkat saat berarung jeram. “Meningkatnya adrenalin berpengaruh pada meningkatnya kinerja sehari-hari. Karena itu saya juga biasa ikut arung jeram,” tandasnya.

Selain untuk menyegarkan badan, aktivitas arung jeram juga berfungsi untuk merekatkan hubungan antar rekan kerja. Demikian ungkap Oki Putra (24) pegawai Aneka Cool Citratama. Melalui arung jeram dapat mengakrabkan dan melatih kekompakan sesama karyawan. “Makanya di kantor kami, ada waktu-waktu tertentu untuk kegiatan arung jeram,” katanya.

Adi Rusliono menambahkan arung jeram bisa dilakukan oleh siapa saja. Untuk pemula diperlukan penyesuaian terlebih dahulu agar selama perjalanan mengarungi sungai berjalan mulus. Biasanya peserta diberikan pengetahuan singkat tentang teknik mendayung dan aba-aba yang kerap digunakan selama perjalanan dengan kedalaman sungai bervariasi antara 1-3 meter. Pemantauan kondisi perubahan alam pun wajib dilakukan. Misalnya dengan mangamati tinggi muka air (TMA) rata-rata. Jika TMA naik 40 cm di atas rata-rata maka harus dilakukan ekstra pengamanan. Jika ketinggian naik 50 cm maka aktivitas harus dihentikan. ”Semua ini dilakukan demi keamanan” ungkapnya.

Dosen psikologi sosial dan psikologi olahraga Unair, dr Suryanto mengungkapkan ada kelebihan kegiatan arung jeram, 2 poin pentingnya yakni melatih keberanian dan uji nyali. Setiap tantangan yang dilewati saat arung jeram bertujuan menyelamatkan diri sehingga menimbulkan kekompakan tim, proses komunikasi informasi yang cepat. “Hal ini yang sering dipersonifikasi dalam dunia bisnis. Apalagi dalam dunia bisnis untuk mengambil keputusan dibutuhkan keberanian untuk menanggung risiko. “Karena itu banyak perusahaan secara khusus merekomendasi kegiatan arung jeram bagi para karyawannya,” katanya. (*)

Kafe dengan Menu Utama Buku

Pukul 17.00, Dio dan Tika masih mengenakan seragam SMP Negeri 6 berdiskusi di pojok ruangan dengan beberapa buku di atas meja. Jika ingin baca buku lain, mereka tinggal jalan dua langkah ke rak buku. Jangan salah, mereka bukan di perpustakaan, tapi di kafe yang sajian utamanya adalah buku.

Oleh: Ginanjar Dimas Agung
Kafe dengan menu utama buku memang bukan hanya untuk sekedar makan kudapan minum orange juice, chocolate, atau kopi. Fasilitas kafe yang paling umum saat ini adalah penambahan giant screen dan hot spot. Lain cerita jika kafe mengandalkan buku-buku sebagai “menu” utamanya. Kafe buku mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan ratusan kafe yang tersebar di pelosok Surabaya.
Sebutlah dua kafe di jalan BKR Pelajar dan Dr Cipto, Magnet Zone dan C2O. Bagi Magnet Zone dan C2O, sebuah kafe difungsikan untuk membangun budaya baca dan inspirasi bagi pengunjungnya. Tapi yang terutama adalah meningkatkan budaya baca.
Evie, manajer Magnet Zone, mengungkapkan, pendirian kafe ini dilatarbelakangi rendahnya minat baca masyarakat Surabaya. Tak heran ia dapat mengklaim sebagai kafe buku pertama di Surabaya. Selain itu lokasinya memang strategis karena dikelilingi beberapa bimbingan belajar serta SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5, dan SMAN 9.
“Konsep utamanya adalah bookst -

ore dan kafe. Pengunjung boleh membaca buku yang tidak disegel oleh penerbit,” papar manajer yang akrab disapa Bunda Evie ini. Banyak ragam koleksi yang berjajar di rak bookstore di Jl BKR Pelajar ini. Menurut dia, anak-anak biasa membaca psikologi poluler, kisah teenlit dan chicklit serta komik.

Kenyamanan pengunjung memang menjadi perhatian utama. Ia menyiasatinya dengan mengatur tata letak ruangan. Beberapa tempat direkayasa sedemikian rupa. Ruangan anak misalnya, terdapat sofa besar dan empuk. Banyak buku bacaan konsumsi anak-anak.

Untuk melengkapi kenyamanan membaca buku, pengunjung dapat memesan kudapan berupa frenchfries, Pasta, Spagheti, Juice dan Ice Cream. “Pengunung yang datang tiap hari rata-rata 30-40 orang, mereka biasanya memesan ice cream dan frenchfries” papar Bunda Evie menyimpulkan senyum.

Berbeda dengan Magnet Zone sebagai tempat kedua kongkow setelah sekolah, C2O menggandeng komunitas seni kontemporer untuk menyemarakkan suasana. Buku-buku yang hadir dalam kabin ruangan pun ikut menyesuaikan.

Ragam buku yang tampil adalah sastra, fiksi, dan nonfiksi Indonesia atau mancangera, sosiologi dan “menu” andalannya adalah desain visual dan grafis. Maklum, Katleen salah satu pengelola persewaan buku adalah komikus lulusan desain dari Aurtralia.

C2O dengan slogan Library, Cinematheoue and Café, bukan untuk mengekor dan memanfaatkan peluang bisnis kafe buku. Katleen sebagai salah satu pengelola memaparkan, C2O ingin memperkaya pemikiran anak muda dan komunitas seni di Surabaya. “Saya ingin tempat ini menjadi ruang alternatif untuk komunitas menyalurkan ekspresinya” paparnya.

Katleen menyayangkan bahwa dunia baca di Surabaya masih tertinggal dibandingkan kota lain. “Meskipun Surabaya adalah kota terbesar kedua, tapi masih kalah dengan Bandung dan Jogja,” jabarnya singkat menjelaskan langkanya ruang publik untuk membaca dan berkumpul di Surabaya.

Rak merah berjajar mengelilingi ruangan. Di beberapa sudut terdapat meja dan kursi yang disediakan untuk membaca. Jika ingin memesan beberapa makanan ringan dan minuman tinggal melihat daftar menu disebuah kaca besar. Di beberapa bagian rak, terdapat komik lengkap dari berbagai versi dan aliran yang dinamakan Comic Corner. Untuk menyemarakkan pengunjung C20, Comic Artists’ Society (CAS) Surabaya ikut mendukung dalam bentuk workshop, bedah komik, dan meet and greet komikus.

C2O memberikan ruang kepada siapa saja yang ingin menikmati seni dan memproduksi seni. Misalnya untuk praktisi film, disediakan ruangan dan waktu khusus untuk mempublikasikan karyanya kepada pengunjung yang datang. Di waktu-waktu tertentu diputar film animasi dan film independen yang dapat kita saksikan di bilik pemutaran film.

Katleen berharap agar budaya baca bisa didekatkan dengan seniman-seniman komunitas di Surabaya.”Saya tidak ingin memaksa teman-teman untuk membaca buku seperti novel. Atau melarang bermain videogame dan menganjurkan mereka untuk membaca” jawabnya.

Mendekatkan ruang gerak komunitas urban art Surabaya dengan buku adalah salah satu capaiannya. Budaya membaca bagi Katleen bukanlah sesempit membaca novel. Ruangan yang tenang, pendar cahaya yang terang dan waktu khusus membaca bukan merupakan jaminan bahwa kita akan tertarik untuk membaca.

Zaman telah berubah, hiburan secara sengaja disandingkan dengan aktivitas membaca. Alunan musik sayup-sayup, makanan ringan, soft drink serta riuh rendah obrolan tawa teman satu meja kerap lebih mendorong orang untuk membaca di kafe atau rental buku daripada membaca di perpustakaan. (*)